Bagian penutup dari kisah Avatar dibuka dengan ketegangan yang memuncak. Tim Avatar kini lengkap dan bersatu di Ember Island, sebuah pulau peristirahatan Negara Api, menunggu momen yang tepat untuk menghadapi Fire Lord Ozai. Namun rencana mereka semula—menunggu hingga akhir musim panas dan melatih Aang lebih matang—terguncang oleh penemuan mengerikan. Komet Sozin akan tiba lebih cepat dari perkiraan, dan Ozai berencana memanfaatkannya untuk melancarkan serangan api besar-besaran yang akan membakar seluruh Kerajaan Bumi hingga rata dengan tanah. Ozai bermaksud mendeklarasikan dirinya sebagai "Phoenix King," penguasa mutlak atas dunia yang telah dibakarnya.
Waktu Aang habis. Ia belum sepenuhnya siap, dan yang lebih berat lagi, ia bergulat dengan dilema moral yang tak terpecahkan: bagaimana seorang Pengembara Udara yang menghormati semua kehidupan dapat membunuh, meski demi menyelamatkan dunia? Konflik batin ini menjadi jantung emosional dari klimaks besar.
Malam sebelum konfrontasi terakhir, Aang menghilang secara misterius. Rombongan panik mencarinya. Beban tanggung jawab menjadi terlalu berat—Aang tidak bisa mendamaikan tugasnya membunuh Ozai dengan prinsip terdalam yang ia warisi dari para biksu Pengembara Udara: kesucian setiap kehidupan. Ia mencari bimbingan dari para Avatar terdahulu melalui meditasi mendalam.
Satu per satu, keempat Avatar dari masa lalu memberinya nasihat. Avatar Roku (Api) mengatakan Aang harus bertindak tegas. Avatar Kyoshi (Bumi) menyatakan ia sendiri tak segan mengambil nyawa demi keadilan. Avatar Kuruk (Air) menekankan ketegasan. Avatar Yangchen (Udara)—sesama Pengembara Udara yang seharusnya paling sepaham—justru mengatakan bahwa tugas seorang Avatar terhadap dunia harus mengalahkan kebutuhan spiritual pribadinya. Semua pendahulunya sepakat: Aang harus membunuh Ozai. Namun Aang menolak menyerah pada jalan itu.
"Semua umat manusia bergantung padamu untuk menghancurkan Fire Lord. Namun kesucian hidup adalah prinsip terdalamku." — pergulatan batin Aang.
Di tengah keputusasaannya, Aang menemukan makhluk purba misterius—seekor Lion Turtle raksasa, sisa peradaban paling kuno di dunia. Makhluk ini memberi Aang jalan ketiga yang tak pernah terpikirkan: energybending, seni mengendalikan energi dalam diri seseorang. Dengan teknik ini, Aang dapat mencabut kemampuan pengendalian api Ozai tanpa membunuhnya—tetapi dengan syarat: jika kehendaknya tidak cukup kuat dan murni, jiwanya sendiri akan hancur dalam prosesnya. Ini adalah jawaban yang selama ini ia cari, meski penuh risiko.
Klimaks serial terbagi menjadi beberapa medan pertempuran yang berlangsung bersamaan saat Komet Sozin melintasi langit dan melipatgandakan kekuatan setiap pengendali api. Anggota Tim Avatar dan sekutu mereka menyebar untuk menghadapi ancaman yang berbeda.
Iroh, yang telah lolos dari penjara, memimpin Ordo Teratai Putih—perkumpulan rahasia para master lintas bangsa, termasuk Master Pakku, Jeong Jeong, Bumi, dan Piandao. Bersama-sama, para tetua legendaris ini merebut kembali Ba Sing Se dari cengkeraman Negara Api, membebaskan kota terbesar Kerajaan Bumi. Iroh menolak menghadapi keponakannya Zuko sebagai musuh; sebaliknya ia percaya takdir Zuko adalah menjadi Fire Lord yang baik.
Sokka, Toph, dan Suki mengemban misi menghentikan armada kapal udara raksasa yang membawa pasukan Ozai untuk membakar Kerajaan Bumi. Dalam salah satu sekuens paling menegangkan, ketiganya bertarung di atas dan di dalam kapal-kapal udara yang melaju. Sokka—sang ahli strategi tanpa kekuatan pengendalian—dan Toph nyaris tewas, tetapi diselamatkan oleh Suki pada saat kritis. Kepahlawanan trio ini, terutama Sokka yang biasa jadi bahan lelucon, menegaskan bahwa keberanian tidak memerlukan kekuatan supernatural.
Sementara itu, Zuko menghadapi takdirnya sendiri. Ozai, sebelum berangkat untuk membakar dunia, menobatkan Azula sebagai Fire Lord baru sebagai penghinaan terakhir bagi Zuko. Namun Azula, di puncak kekuasaannya, mulai runtuh secara mental. Paranoia dan kesepian menggerogotinya—Mai dan Ty Lee telah mengkhianatinya di Boiling Rock, dan ia tak lagi mempercayai siapa pun. Ketakutan bahwa semua orang akan meninggalkannya membuatnya semakin tidak stabil.
Zuko, ditemani Katara, kembali ke Ibu Kota untuk menantang Azula dalam Agni Kai—duel api resmi—demi takhta. Pertarungan antara kakak-beradik ini adalah salah satu yang paling memukau secara visual dalam serial: api merah Zuko melawan api biru Azula, di bawah langit yang membara oleh komet. Azula yang semakin gila bertarung tanpa kehormatan; ketika ia menyadari akan kalah, ia mengarahkan sambaran petir bukan ke Zuko, melainkan ke Katara.
Zuko melompat menghadang petir demi menyelamatkan Katara, mengorbankan tubuhnya sendiri—tindakan penebusan tertinggi.
Zuko jatuh terluka parah. Katara, kini bebas, menghadapi Azula sendirian. Dengan kecerdikan, Katara memancing Azula ke dekat saluran air, membekukan mereka berdua, lalu merantai Azula. Azula yang kalah meraung dan menangis histeris—runtuh total secara mental, gambaran menyayat tentang seorang anak yang dihancurkan oleh ambisi dan ketakutannya sendiri. Katara lalu menyembuhkan Zuko, menyelamatkan nyawanya.
Pertempuran utama adalah antara Aang dan Fire Lord Ozai—kini menyebut dirinya Phoenix King. Diperkuat oleh Komet Sozin, Ozai adalah kekuatan alam yang menakutkan, melontarkan gelombang api dan petir. Aang, yang bertekad tidak membunuh, awalnya bertahan dan mengelak, menggunakan keempat elemen untuk menghindari serangan. Namun Ozai mendesaknya tanpa ampun, mengejeknya sebagai pengecut yang lemah.
Dalam sebuah momen menentukan, sebuah batuan menekan luka di punggung Aang—tepat di titik chakra tempat petir Azula pernah menutupnya. Tekanan itu membuka jalur chakra yang tersumbat, dan Aang akhirnya menguasai Avatar State secara penuh dan sadar untuk pertama kalinya. Dengan kekuatan seluruh Avatar terdahulu mengalir melaluinya, ia menjadi hampir tak terkalahkan, menekan Ozai hingga tak berdaya.
Pada puncak kekuatannya, Aang siap menghabisi Ozai. Namun di detik terakhir, ia menarik kembali kekuatannya. Ia menolak membunuh, tetap setia pada prinsip terdalamnya. Sebagai gantinya, Aang menggunakan energybending yang ia pelajari dari Lion Turtle. Dalam pergulatan kehendak yang mengerikan—energi biru Ozai melawan energi keemasan Aang—kemurnian jiwa Aang menang. Ia mencabut pengendalian api Ozai selamanya, membuatnya menjadi manusia biasa yang tak berdaya. Ozai dikalahkan tanpa dibunuh, sebuah kemenangan yang mempertahankan integritas moral Aang sekaligus mengakhiri ancamannya.
Perang Seratus Tahun berakhir. Ozai dikalahkan dan dipenjara. Zuko dinobatkan sebagai Fire Lord yang baru, bertekad memulihkan kehormatan sejati bangsanya dan menyembuhkan luka yang ditimbulkannya di seluruh dunia. Dalam pidato penobatannya, Zuko mengumumkan era pemulihan dan perdamaian, dengan Aang sebagai mitra dalam membangun dunia baru. Zuko juga mengunjungi Ozai yang dipenjara untuk menuntut jawaban tentang keberadaan ibu mereka, Ursa—sebuah benang yang menegaskan bahwa penyembuhan personal masih berlanjut.
Di sebuah momen penuh haru, Zuko berterima kasih kepada Iroh, pamannya yang selama ini tak pernah berhenti mempercayainya. Zuko meminta maaf atas pengkhianatannya, dan Iroh, dengan air mata, memeluknya—memaafkan sepenuhnya. Iroh memilih tidak mengambil takhta untuk dirinya sendiri, melainkan kembali ke Ba Sing Se untuk membuka kedai teh, hidup damai sesuai impiannya.
Serial ditutup dengan adegan tenang di kedai teh Iroh, Jasmine Dragon, di Ba Sing Se. Seluruh anggota Tim Avatar berkumpul dalam kedamaian yang akhirnya mereka raih. Sokka melukis potret kelompok (dengan hasil yang lucu), Toph mengomentarinya meski ia buta, dan semua tertawa. Zuko menuangkan teh untuk teman-temannya. Di luar, Aang dan Katara akhirnya mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain dengan sebuah ciuman di bawah matahari terbenam—menutup busur romansa yang tumbuh sepanjang tiga musim.
Avatar: The Last Airbender berakhir bukan sekadar dengan kemenangan militer, tetapi dengan kemenangan moral. Aang mengalahkan tirani tanpa mengorbankan jiwanya; ia membuktikan bahwa ada jalan ketiga di antara membunuh dan menyerah. Zuko menemukan penebusan sejati melalui pilihan-pilihan sulit, bukan melalui pengakuan yang ia dambakan dari ayahnya. Katara berdamai dengan masa lalunya; Sokka menemukan nilai dirinya; Toph menemukan keluarga; dan Iroh, sang jiwa bijak, akhirnya menikmati kedamaian yang layak ia dapatkan.
Serial ini menutup seluruh benang tema yang dibangun sejak Book One: kehilangan dan penemuan, tanggung jawab dan pilihan, kehormatan sejati versus pengakuan eksternal, serta kekuatan pengampunan untuk memutus siklus kebencian. Dunia empat bangsa, yang selama seratus tahun terkoyak oleh perang, kini memasuki era baru—dibangun kembali di atas fondasi harmoni yang sama seperti yang dijaga oleh para Avatar sejak zaman purba. Aang, sang anak terakhir dari Pengembara Udara, tidak hanya menyelamatkan dunia; ia mengembalikan keseimbangan yang menjadi inti dari keberadaannya sendiri.
"Meski Pengembara Udara telah tiada, semangat mereka hidup melalui Aang." — warisan yang menutup kisah sang Avatar terakhir.